[S-Savers Contest; Banjir TomatCeri]- On Our Way

DDnP-vxUAAA6ZvS

Judul                            : On Our Way

 

Author                         : Jeska

 

Disclaimer                   : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. But the storyline belongs to me. No material profit taken but don’t be a plagiator and don’t take this fict without permission.

 

Rating                          : T

 

Prompt number          : #79

 

Kategori                      : SasuSaku AU

 

Summary                     : [S-Savers Contest; Banjir TomatCeri] Uchiha Sasuke menerobos masuk ruang kerja Haruno Sakura tanpa kata permisi dan membawanya menuju perjalanan paling tak terencana seumur hidupnya.

 

.

 

Adalah suatu keputusasaan ketika jarum jam menunjukkan tepat pukul empat sore di hari Rabu yang terik oleh sinar matahari yang menantang, Uchiha Sasuke keluar dari gedung Uchiha Corp dengan sedikit berlari; wajahnya datar tak berekspresi, jas hitam yang selalu menemaninya tertinggal di sisi meja di ruang kerjanya, lengan kemeja seputih gading yang ia kenakan digulung sampai batas siku, satu kancing paling atasnya terbuka; tak lagi tampak dasi abu-abu itu di sana.

 

Adalah suatu keterkejutan yang melanda bak badai di siang bolong , ketika untuk yang ketiga kalinya Haruno Sakura menguap lebar; rasa kantuknya hampir mencapai ambang batas dan ia benar-benar akan memasuki alam mimpi jika saja sang kekasih—si Uchiha bungsu tidak muncul dari pintu ruang kerjanya dengan tergesa dan langsung menerobos masuk tanpa permisi; menarik tangan Sakura yang tenggelam dalam laporan-laporan kesehatan pasiennya yang berserakan di atas meja.

 

Adalah  Lykan Hypersport berwarna hitam metalik yang membawa sepasang kekasih beda profesi itu melaju membelah jalanan Tokyo dengan kecepatan di atas rata-rata. Keramaian yang semula tak dapat terbendung kini perlahan-lahan mulai tertinggal di belakang, Sasuke mengendarai mobil sport mewahnya dengan nyaris—tidak, benar-benar gila-gilaan. Sepenuhnya mengabaikan teriakan dan umpatan si gadis muda Haruno yang hampir-hampir menendang bokongnya karena tak urung memelankan laju kecepatan sang mobil.

 

“Uchiha Sasuke—kau benar-benar…”

 

“Dasar gila, kau sudah gila!”

 

“KAU DENGAR AKU TIDAK?”

 

Haruno Sakura merasakan tenggorokannya tercekat, tak sanggup berteriak lagi. Mendapati suaranya nyaris habis tersedot bunyi klakson yang menggema serta nyaring pekikan pengendara lain yang beruntungnya tidak Sasuke tabrak.

 

Rambutnya—ya, rambut merah mudanya yang lembut dan berkilau—berterbangan seiring hembus angin yang datang menggebu-gebu ke arahnya. Sakura menarik napas panjang, melihat jas putih khas dokter itu masih melekat di tubuhnya, setengah meringis mendapati beberapa noda samar di sana.

 

Sasuke si lelaki gila telah membuatnya berlari pontang-panting meninggalkan rumah sakit dengan nyaris tak beralas kaki.

 

“Ganti pakaianmu.”

 

Adalah kata pertama yang Sasuke ucapkan setelah beberapa menit belakangan hanya deru mesin mobil dan tarikan napasnya lah yang terdengar. Sepasang iris obsidian yang sehitam arang itu melirik Sakura sekilas, mendapati sang gadis merogoh sebuah kantong plastik putih dan mengernyit.

“Kau—“

 

“Aku tak tau, aku hanya ingin pergi. Aku tak tau tujuanku tapi aku tau aku ingin pergi bersamamu.”

 

Sebaris kalimat itu membuat Sakura tercengang, emeraldnya membulat sempurna. Tak habis pikir kenapa kekasih paling-pintar-sekaligus-paling-tampannya-itu bisa menjadi setidakwaras ini. Bibir merah mudanya terbuka sedikit, hendak melontarkan beberapa kata,

“Aku tidak tau harus berkata apa kali ini, Uchiha. Tapi kau harus menceritakan semuanya. Segera.”

 

Pemuda raven berparas menawan itu menyeringai, sebelah tangannya merangkak dari setir mobil menuju tangan Sakura, meremasnya beberapa detik sebelum menoleh,

“Cepat ganti bajumu.”

 

“Ya…” balas Sakura dengan suara tertahan, “DAN KAU MENYURUHKU MENGGANTI BAJU DI DALAM MOBIL SPORT MAHALMU YANG SEDANG MELAJU KENCANG INI HINGGA RASANYA PAKAIAN DALAMU INGIN TERBANG!”

 

Lalu untuk pertama kalinya, Uchiha Sasuke nyaris meledakkan tawa.

***

 

Jadi di sini lah mereka berhenti, di tepi jalan lintas yang kebetulan sepi. Di bawah naungan langit biru yang mulai menampakkan gurat-gurat kekuningan; senada dengan sang mentari yang mulai beranjak pelan-pelan menuju sisi barat; bersiap tinggalkan hari yang panjang dan melelahkan untuk berbagi tugas dengan sang rembulan demi memberi sedikit cahaya pada gelapnya malam.

 

Uchiha Sasuke bersandar di kap depan mobil dengan satu tangan dimasukkan ke dalam kantung celana. Ekspresinya masih datar meski sesekali mengerutkan kening atau menghirup napas berat. Otaknya terus berputar memikirkan jalan keluar masalah perusahaannya. Terbentur dengan kendala mengenai beberapa proyek yang akan dilaksanakan, meski sudah tertata dengan rapid an disampaikan dengan baik oleh staff kepercayaannya dalam rapat mereka tadi pagi, beberapa klien tetap merasa belum puas. Mereka terus mendesak si bungsu Uchiha untuk mengubah jadwal dan mempercepat pelaksaan proyek tersebut, yang tentu saja harus membuatnya mengatur ulang semua schedule. Ditambah lagi proyek ini bukan proyek main-main, ini sebuah proyek besar yang melibatkan banyak perusahaan lain dan para pemegang saham, kesalahan sedikit saja akan berakibat fatal untuk kelangsungan perusahaannya. Amarahnya nyaris meledak di pertemuan tadi, didesak dan dipaksa bukanlah sesuatu yang menyenangkan , terlebih untuk seorang Uchiha Sasuke.

 

Dan ia merasa harus sedikit menjauh dan mendinginkan kepalanya barang sejenak.

 

Sambil memijit pelipis, Sasuke melirik melewati bahunya. Memastikan apakah sang kekasih sudah selesai berganti pakaian atau belum. Kemudian melihat pintu mobil yang perlahan membuka membuatnya tersenyum tipis.

 

“A—“

 

Gadis musim semi itu menutup mulut mulut Sasuke dengan jari telunjuknya, menggelengkan kepala.

“Kau menculikku, membuat posisiku di rumah sakit tengah terancam. Sekarang katakan apa yang membuatmu bertindak seperti ini,” katanya dengan berkacak pinggang.

 

Adalah “She Brings The Rain” Cotton T-shirts by Re/Done yang dikenakan Sakura, dipadu dengan Little Queenie Ripped Jean Shorts by Black NYC, serta sepasang sneaker putih InstaPump Fury Trainers by VATEMENTS X Reebok, tak lupa sebuah gelang Duo Evil Eye Bangle by SWAROVSKI yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya.

 

Ini semua yang ada di dalam plastik pemberian Sasuke dan semuanya… pas. Tidak membuatnya sesak karena kekecilan, tak pula membuatnya tenggelam karena kebesaran. Saat memakainya tadi Sakura berpiki apakah Sasuke memang mengetahui dengan pasti ukuran bahu dan pinggangnya.

 

“Cantik,” kata Sasuke tanpa memperdulikan tatapan mengintimidasi Sakura, ia menarik gadis itu kembali ke mobil dengan sedikit penolakan dan beringsut ke bangku pengemudi.

 

Sang pemuda mulai menjalankan mobilnya, melintasi jalanan yang luas membentang. Matahari sudah hampir setengah jalan menuju peraduan. Dari dalam sini, Sasuke dan Sakura  dapat melihat detik demi detik sang surya bergerak semakin tak terjangkau. Pemandangan yang sangat indah membuat Sakura sejenak melupakan penat dan lelahnya. Ia menutup mata dan merasakan angin yang mulai bersahabat membelai kulit wajahnya. Sesekali tampak melirik si pujaan hati yang raut mukanya masih menyimpan sejuta misteri.

 

Kadang Sakura berpikir, mengenal Sasuke selama hampir setengah umurnya masih belum cukup lama untuk menyentuh bagian-bagian terdalam sudut pemuda itu. Begitu banyak rintangan dan masalah yang Sasuke hadapi; yang disimpannya sendiri; yang tak ia biarkan seorang pun tau.

 

Dari sisi ini, Sakura menyadari Sasuke masih mengenakan pakaian kerjanya; kemeja putih yang mulai kusut karena ulah terpaan angin dan gulungan asal di lengannya.; celana dan sepatunya pun masih sama. Sakura dapat menilik pria itu beberapa kali mengerutkan kening sampai urat-urat di kepalanya terlihat samar-samar. Sakura juga dapat menilik raut kelelahan yang berusaha ia sembuyikan.

 

Gadis itu tersenyum tipis, Sasuke-kun nya sekarang adalah seorang lelaki dewasa yang bertanggung jawab dan pekerja keras.

Sakura bangga padanya.

 

“Sasuke-kun.”

 

“Hn.”

 

Sakura masih mempertahankan senyumnya meski Sasuke tak menoleh.

“Aku akan menunggumu bercerita,” bisik Sakura setelah melayangkan satu kecupan hangat di pipi Sasuke.

 

Sang Uchiha bersemu dalam diamnya.

***

 

Katakan saja sudah tiga puluh menit berlalu. Katakan saja mentari sudah tenggelam sempurna di ujung barat. Katakan saja langit nyaris kehilangan warna cerahnya; sang kegelapan merangkak di kolong-kolongnya, pelan-pelan merayap dan menyelimuti seluruh permukaannya hingga tak satupun biru, kuning, atau bahkan jingga yang sanggup bertahan.

 

Sasuke masih mengendarai mobilnya, mereka telah jauh meninggalkan kota. Dan suatu keberuntungan bagi jantung Sakura karena kali ini si Uchiha tak lagi menginjak pedal gas sekuat tenaga.

 

Syukurlah, ini bisa berarti lebih baik untuk keselamatan hidup mereka berdua. Sebab terkena heart attack adalah penyebab terbesar kematian mendadak di seluruh dunia; dan Sakura tak ingin menjadi salah satu korbannya.

 

Tidak. Jangan sampai.

 

Diam-diam, ia menghembuskan napas lega. Diliriknya sekali lagi Sasuke yang masih berwajah datar, tanpa sadar terkekeh pelan. Tadi, tak sampai sepuluh menit yang lalu, Sakura mengambil ponsel pintarnya dari dalam tas. Membuka kamera depan dan meminta Sasuke berpose bersamanya. Lelaki itu menolak untuk mengikuti ajakan Sakura namun si gadis memaksanya hingga Sasuke luluh. Beberapa selfie yang mereka ambil benar-benar lucu dengan ekspresi Sasuke yang kelihatan terpaksa. Sakura sampai terkikik menyadari betapa tampan kekasihnya ini bahkan dalam wajah cemberut sekalipun.

 

“Bagaimana kalau kita berhenti sebentar untuk makan malam, Sasuke-kun?” kata Sakura setelah menyadari ritme mengganggu perutnya. Anggap saja ia sudah menerima tindakan tiba-tiba Sasuke yang membawanya melakukan perjalanan entah kemana ini. Sekarang ia akan lebih leluasa dan tidak akan marah dan berteriak lagi. Ia sudah cukup memahami bagaimana lelaki itu tampak memiliki masalah yang akan sangat bagus jika Sakura bisa mengetahuinya saat makan malam ini.

 

Sasuke mengangguk, “Baiklah.”

***

Di depan sebuah restauran di pinggir jalan, Sasuke memarkirkan mobilnya di tempat yang sudah tersedia. Keduanya memasuki tempat itu dan mengambil meja di sisi sudut sebelah kiri. Seraya melambaikan tangan sebagai kode kepada si pelayan, Sasuke mengeluarkan ponselnya dari dalam kantung celana. Terdapat beberapa panggilan tak terjawab dan sebanyak lebih dari lima pesan masuk, yang sebagian besar berasal dari si pirang berkulit tan yang berisik—Uzumaki Naruto.

 

Sasuke menghela napas, memesan makanannya dengan cepat kemudian kembali terdiam menatap sang ponsel. Naruto pasti merasa khawatir karena melihat aura kemarahan di mata Sasuke saat rapat berlangsung tadi. Sahabat sekaligus rekan bisnisnya itu pasti sudah paham betul mengenai bagaimana dirinya.

 

“Dari Naruto?” tanya Sakura beberapa saat setelahnya.

 

“Hn.”

 

Dengan satu kedipan mata, Sasuke menekan tombol panggil ke nomor Naruto—Sakura terkekeh tanpa suara melihatnya.

“TEME!”

 

Si pemuda raven sampai harus menjauhkan ponsel hitamnya dari telinga begitu mendengar suara nyaring Naruto dari ujung telpon.

“Jangan berteriak, bodoh.”

 

“TEME! KAU MEMBUATKU KHAWATIR. KUKIRA KAU AKAN GANTUNG DIRI ATAU MENELAN RACUN SERANGGA! AKU TAU KAU—“

 

“Berhenti berkhayal, idiot.” Kalimat Sasuke tak ayal membuat Sakura tergelak. Beginilah persahabatan dari lahir itu terjalin. Dua pemuda jangkung yang sangat bertolak belakang—satunya yang berisik dan menyebalkan, walaupun selalu ceria dan senang berbicara. Satunya lagi yang dingin dan datar, walaupun cerdas dan berkharisma.

 

“Huh, kau benar-benar tidak menghargai perasaanku, dasar Teme.”

 

“Baiklah, Dobe. Aku baik-baik saja dan aku sedang bersama Sakura sekarang.”

 

Suara Naruto terdengar lebih riang, “Benarkah? Berikan ponselmu pada Sakura-chan! Aku ingin bicara de—”

 

“Tidak. Tidak akan pernah.” Sasuke menatap tajam ponsel di genggamannya seolah tatapannya dapat membakar lelaki di ujung sana.

 

Naruto si tukang gombal tidak boleh menjerat Sakura-nya.

“Ck, yasudah.”

 

“Hn.”

 

Hening beberapa saat. Pelayan membawakan pesanan mereka, Sakura mulai menyeruput Lemon Tea-nya sambil terus melirik Sasuke.

 

“Aku akan tutup—“

 

Saat Sasuke hendak menekan tombol merah, Naruto tiba-tiba berujar, “Yakinlah pada dirimu, Teme. Kau pernah menghadapi yang lebih berat dari ini. Nikmati waktumu bersama Sakura-chan dan biarkan pikiranmu jernih. Kau pasti bisa mengatasi mereka.”

 

Tak bisa Sasuke sangkal, kata-kata Naruto membuat semangatnya perlahan-lahan pulih. Seperti beban-beban yang menumpuk di bahunya mulai terangkat. Tanpa sadar ia tersenyum tipis—sangat tipis namun masih sempat Sakura lihat.

 

“Hn. Terima kasih, Dobe.”

***

 

Jarum pendek jam di pergelengan tangan Sasuke sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Berkendara di tengah pergantian musim membuat cuaca sedikit tidak bersahabat. Mereka kini telah menghabiskan makan malam, sembari melirik kepada Sakura yang tampak sibuk dengan ponselnya, Sasuke memutuskan untuk memanggil pelayan agar mengantarkan bill.

 

“Sasuke-kun.”

 

Sakura membuka suara setelah mereka meninggalkan meja dan berjalan menuju kasir. Perkataannya tak mendapat jawaban kendati Sasuke tengah memusatkan perhatian pada dompetnya.

 

“Permisi. Apakah ada penginapan yang tak jauh dari sini?”

 

Si gadis musim semi tersentak mendengarnya, tatapannya horror ke arah Sasuke yang justru tampak tenang. Kenapa pula pemuda ini menanyakan penginapan kepada sang penjaga kasir? Memangnya mereka mau apa—

 

“Oh ada Tuan, kami juga menyediakan penginapan. Jika Anda ingin saya bisa memanggil orang untuk mengantar Anda.”

 

Tanpa merasa perlu meminta persetujuan Sakura, Sasuke mengangguk. Sang kasir pun mengangguk. Segera menghubungi seseorang yang tak sampai sepuluh menit kemudian datang. Bersikap ramah sambil membawa keduanya menuju penginapan kecil yang tampak nyaman dari luar.

 

Haruno Sakura terdiam sesaat—tidak, tidak. Dia sudah terdiam cukup lama sejak tadi. Seolah kakinya menurut saja ketika Sasuke menariknya mengikuti sang pelayan. Mereka memasuki penginapan itu dan memesan kamar. Memesan satu kamar, lebih tepatnya. Sakura menghela napas kala itu, namun hanya bisa menggeleng ketika mendapati raut lelah Sasuke yang terlihat berkali-kali lipat dari sebelumnya.

 

Satu kamar di lantai dua, lorong sebelah kiri bagian paling ujung. Begitu melangkahi pintunya, manik hijau Sakura menyorot sekeliling ruangan yang terbilang luas dengan dinding berwarna cokelat muda, sepasang jendela di sisi sebelah barat, serta sebuah tempat tidur king size di sisi yang satunya. Ada dua buah nakas di masing-masing bagian tempat tidur, terdapat satu lampu kristal kecil, beberapa laci, serta telepon kabel berwarna hitam. Juga terdapat sebuah lemari besi dan tiga buah sofa yang lengkap dengan meja dan televisi.

 

“Kau mau langsung tidur?”

 

Sasuke bertanya sambil melepas satu persatu kancing bajunya. Ia memutuskan untuk sedikit mencuci muka dan rambutnya sebelum beringsut ke tempat tidur. Sementara si gadis hanya mengangguk dan langsung melompat ke atas ranjang.

 

“Jangan lupa hutangmu, Sasuke-kun.” Imbuh Sakura tatkala pintu kamar mandi nyaris tertutup. Terdengar gumaman samar lelaki tersebut sebagai jawaban.

 

Sakura menghela napas. Melirik sneaker putih di lantai, kemudian kembali menatap langit-langit yang dihiasi satu lampu kristal besar yang berpendar kekuningan. Besok ia harus menyiapkan alasan-alasan yang tepat untuk diutarakan kepada Tsunade-sama selaku atasannya. Tapi yang terpenting sekarang adalah bagaimana cara membuat Sasuke mau berbagi masalah yang menimpanya dan membiarkan Sakura memberi sedikit advice kepadanya.

 

Tenggelam dalam lamunan, Sakura sampai tak menyadari Sasuke kini menaiki ranjang hingga menimbulkan bunyi derit yang tak kentara. Lelaki itu kini bertelanjang dada, Sakura memaklumi karena mengetahui kebiasaan kekasihnya itu.

 

Memiringkan kepala, Sakura bertanya, “Jadi, apa?”

 

Uchiha Sasuke menatapnya, terdiam. Onyx dan Emerald bertemu dalam pandang yang tak biasa. Tatapan tajam itu menilik ke binar-binar mata Sakura, mencari dan di detik berikutnya menemukan semua yang dia inginkan. Kebahagiaan; suara tawa, tangis bahagia, hati yang berbunga dan kupu-kupu yang berterbangan. Semuanya ada, di dalam sepasang mata si gadis Haruno.

 

“Sasuke-kun.” Sakura membelai pipi Sasuke. Memberinya kehangatan di tengah dinginnya malam. Ia tersenyum selagi lelaki itu menariknya ke dalam pelukan.

 

Tiga tarikan napas setelahnya adalah pertanda yang sangat baik. Sasuke mulai membuka suara, menceritakan berbagai hal yang mengganggunya. Meski dengan bahasa yang singkat dan padat. Namun tak mengapa karena Sakura sudah jauh lebih mengerti. Ia memahami bagaimana lelahnya sang kekasih harus mengurus perusahaan seorang diri setelah kakaknya—Uchiha Itachi memutuskan untuk pindah ke Amerika bersama keluarga kecilnya—dan mengurus perusahaan yang ada di sana.

 

“Sasuke-kun pasti bisa mengatasinya. Mereka hanya perlu kau yakinkan, jika semuanya memang sudah kau rencanakan secara matang, kau harus mengutarakannya kepada para klien. Mereka akan jauh lebih mengerti jika Sasuke-kun tidak terbawa emosi—“

 

Sakura berhenti sejenak, menjauhkan tubuhnya dari Sasuke,

“Jangan mudah meledak, Sasuke-kun. Kau harus tahan masalahmu dan lihat semuanya dari sisi yang lebih sederhana. Ini hanya tentang kepercayaan dan ketepatan penyampaian.”

 

Kemudian ia menenggelamkan wajahnya di dada Sasuke lagi sementara lelaki itu berpas berat. Sakura benar, Sasuke memang gampang meledak-ledak. Ia tipe orang yang muda tersulut api, yang mudah menimbulkan kebakaran. Sasuke harus belajar banyak untuk mengatasi hal tersebut. Diam-diam ia berjanji pada dirinya sendiri, sepulang dari tempat ini, Sasuke akan mengadakan rapat lagi dan meyakinkan para klienya dengan tenang.

 

“Hn. Terima kasih, Sakura.”

 

Satu kecupan berhasil lolos ke bibir merah muda Sakura yang ranum. Kecupan yang sarat akan perasaan itu membawa keduanya terlelap menuju alam bawah sadar.

 

Malam yang panjang sebentar lagi akan berakhir.

***

 

Pukul lima sore ketika Haruno Sakura selesai dengan pekerjaannya dan telah memiliki janji untuk menemui sang kekasih di apartemen lelaki itu. Jas dokternya kini sudah berganti dengan sebuah kaos putih berlengan pendek, celana jeans panjang berwarna hitam, serta sebuah flat shoes abu-abu yang tampak indah di kaki nya. Ia menenteng sebuah tas jinjing kecil pemberian Sasuke beberapa bulan lalu.

 

Menekan bel apartemen mewah itu, Sakura tersenyum saat tak sampai sepuluh detik kemudian terdengar bunyi klik yang disusul dengan daun pintu yang perlahan terbuka. Menampakkan sesosok pemuda tampan yang dibalut pakaian kerjanya seperti biasa; yang dengan tiba-tiba pula langsung merengkuh sakura tanpa aba-aba. Membuat sang gadis terlonjak kaget, namun tak dapat membendung tawa melihat tingkah sang kekasih.

 

Lihat, dia benar-benar bukan seperti Uchiha Sasuke yang biasa.

END

 

I’m on wattpad!

Haiii readers ^0^

Disini ada yang punya wattpad? Kalau ada mampir ke cerita ku yukk hehe. Aku baru nge-post satu love letter nih^^ silahkan dibaca dan dikomen yaa (jeskaaf)

Ohya ngomong-ngomong, aku juga mau ngasih pemberitahuan kalau browser di note book aku lagi ada masalah T.T jadi aku minta maaf banget kalau bakalan lama nge-post kelanjutan ff player nya huhuu mianhae.

Tapi kalau kalian mau baca ff ku yang ber-cast MyungYeon, kalian bisa kunjungi: oppanuna.com untuk melihat dan membaca ff yang aku ikutkan di lomba yang diadakan website tersebut. Sayangnya ga dapet juara huhu u,u cuma masuk 30 besar :’3

katanya dari 30 besar itu akan dipost semua secara bertahap, nah jadi kalau kalian nemu ff dengan judul “Love in Winter” berarti itu ff aku, asli buatan aku ^0^

Kedepannya aku juga bakalan post ff itu disini kok ^^

At last, see ya guys ^0^

M O O D B O A R D

Do you know about YG NEW GG? Here’s one of the member. Park Chaeyoung a.k.a Roseanne Park a.k.a Rosè.

Rosè moodboard- Baby Blue is in the house 💙

image

Like/comment if you save it. And dont forget to take out with full credit ^0^

Wanna request? Just comment “the idol” below 👇

In Time

intime-cover ff

 

 

Poster By: arin yessy @ Indo Fanfictions Arts

 

Title                 : In Time

 

Main Cast        : INFINITE’s L and TARA’s Jiyeon

 

Support Cast    : SHINEE’s Minho, EXO’s Kai, and BEAST’s Doojoon

 

Genre              : Fantasy, Mistery, Romance.

 

Rating              : Teen

 

Length             : Oneshot

 

Disclaimer       : The Casts are not mine, but the plot is mine. Please don’t be a Plagiator a
Continue reading “In Time”